Author Guidelines

Nun: Jurnal Studi Alquran dan Tafsir di Nusantara menerima kontribusi dalam bahasa Indonesia tentangkhazanah Al-Qur’an dan Tafsir di Nusantara, baik terkait sejarah dan tradisi Al-Qur'an dan Tafsir di Nusantara, kesarjanaan Al-Qur'an dan Tafsir mutakhir di Nusantara, dan transregional network internal Nusantara dan wilayah-wilayah Nusantara dengan peradaban Islam lainnya. Panjang naskah harus di antara 6.000 – 13.000 kata.

Pengiriman Naskah

  1. Format naskah yang dikirimkan: NUN tidak menentukan format/template naskah untuk pengiriman pertama kali. Penulis bisa menggunakan template penulisan apa saja, selama memenuhi unsur-unsur akademik yang telah disepakati. Penulis baru akan diminta untuk menyesuaikan dengan template dan selingkung NUN pada tahap copyedit setelah proses reviu merekemondasikan naskah terkait untuk diterbitkan.
  2. Abstrak: Abstrak tidak lebih dari 250 kata, dan wajib memuat hal-hal berikut:
  • Judul naskah (tanpa identitas penulis)
  • Identifikasi masalah
  • Urgensi kajian
  • Pertanyaan riset
  • Metode kajian
  • Argumen
  • Kata kunci

Format dan Selingkung Naskah Setelah Proses Reviu

Ketika pengiriman pertama, penulis tidak dipersyaratkan untuk mengikuti format dan selingkung NUN; format ini baru akan diterapkan pada proses copyedit (penyelarasan bahasa dan format) setelah proses reviu selesai. Akan tetapi, jika penulis mengikuti format ini semenjak awal, beban copyedit akan menjadi lebih ringan.

  1. Al-Qur’an, bukan Alquran, Qur’an, Quran. Jika kata ini ditulis sebagai kata berbasa Arab, maka tulis miring dan ikuti aturan transliterasi: al-qurʾān.
  2. “Q. 2:25” atau “al-Baqarah [2]: 25”
  3. Naskah menggunakan format catatan kaki. Penulis diminta untuk memanfaatkan aplikasi manajemen referensi Zotero. Di tahap ini, penulis akan ‘dipinjamkan’ akun zotero NUN, menginput data bibliografi ke akun NUN, dan mengaplikasikannya ke dalam naskah menggunakan style ‘Vancouver’. Penulis menginput data bibliografi baru ‘jika dan hanya jika’ data bibliografi yang dimaksud belum terekam di database akun Zotero NUN. DOI wajib disertakan (jika ada). Jika penulis sebelumnya telah menggunakan akun Zotero pribadi, penulis bisa mengekspor data bibliografi tersebut ke akun NUN. Silahkan pelajari mekanisme Zotero untuk poin ini (database dari Mandeley juga bisa diekspor ke Zotero).
  4. Harap sajikan teks dengan format yang sederhana. Hirarki heading (bagian dan sub bagian) hanya maksimal dua tingkat. Misalnya, jika Pendahuluan, Isi, dan Kesimpulan adalah heading tingkat pertama, maka hanya boleh ada satu sub lagi (tingkat kedua) di bawah masing-masingnya.
  5. Ilustrasi, gambar, peta, dan foto disediakan di halaman terpisah dengan format nama file dan posisinya di naskah disebutkan secara jelas.
  6. Nama tokoh-tokoh atau penulis yang dirujuk ditulis lengkap untuk pertama kalinya dan ditulis nama singkat/nama populer untuk penggunaan selanjutnya. Pada penulisan kedua dan selanjutnya ini, nama belakang dituliskan untuk tokoh/figur dari tradisi akademik Barat, tuliskan nama populer/panggilan publik untuk tokoh/figur dari tradisi akademik Indonesia, dan nama/kuniah populer untuk tokoh/figur dari tradisi Arab. Hal serupa berlaku di catatan kaki. Wajib menyertakan alif-lam bagi nama Arab yang memiliki alif-lam. Contoh: Peter G. Riddell > Riddell; Howard M. Federspiel > Federspiel; Sahiron Syamsuddin > Sahiron; Abdul Mustaqim > Mustaqim; Ibn Jarīr al-Ṭabarī > al-Ṭabarī; Abu al-Fidāʾ Ismāʿīl ibn ʿUmar ibn Kathīr > Ibn Kathīr
  1. Judul buku dan lain-lain: Judul buku yang dituliskan di badan tulisan ditulis miring tanpa tanda kutip. Judul tulisan selain buku (artikel, bab buku, esai/artikel media masa, esai/artikel media online, dokumen birokrasi pemerintah, dan sebagainya) tidak ditulis miring dan dibuka dan ditutup dengan tanda kutip dua (“...”). Penyebutan pertama kali wajib lengkap, dan penyebutan kedua dan seterusnya boleh disingkat jadi 3 atau 5 kata atau judul populer. Hal serupa berlaku di catatan kaki. Buku: Jāmiʿ al-Bayān ʿan Taʾwīl Āyi al-Qurʾān > Tafsīr al-ṬabarīSelain Buku: “Pesan Damai di Balik Ayat Perang: Tafsir Atas QS. 22: 39-40” > “Pesan Damai” atau “Pesan Damai di Balik Ayat Perang”
  1. Tanggal/tahun: Penyebutan pertama tokoh historis wajib dilengkapi dengan tahun lahir dan wafat (salah satu atau keduanya). Penulis boleh memilih salah satu dari Hijriah dan Masehi dan menggunakannya secara konsisten di sepanjang naskah. Jika penulis ingin menuliskan tahun versi Hijriah dan Masehi secara bersamaan, maka urutannya adalah tahun Hijriah/Masehi. Penulis wajib menambahkan simbol ‘l.’ jika yang dituliskan adalah tahun lahir, dan jika tanpa simbol berarti angka yang ditampilkan adalah tahun wafat.Contoh: Ibn Jarīr al-Ṭabarī (l. 224 H/839 M) atau (310 H/923M) atau (839 – 923 M) atau (224 – 310 H)
  1. Kata asing harus ditulis miring, kecuali kata-kata yang telah diserap ke bahasa Indonesia.
  2. Transliterasi teks Arab merujuk kepada transliterasi SKB Menag-Mendikbud 1987. Alif lam syamsiah dan qamariyah ditulis ‘al-’. Huruf hamzah dan ʿain tidak diwakili oleh apostrofi (‘). ʿ (simbol seperti setengah lingkaran membuka ke kanan) digunakan untuk ʿain, dan ʾ (simbol seperti setengah lingkaran membuka ke kiri) untuk Hamzah di pembuka kata tidak perlu diberi simbol apa-apa.Contoh: malāʾika, yaʿbudūna
  3. Kutipan langsung jika lebih dari lebih dari 2 baris dijadikan satu paragraf terpisah dan ditulis menjorok ke dalam di semua baris.
  4. Hindari penggunaan istilah-istilah Arab atau Inggris yang bukan terminologi teknis dalam kajian Al-Qur’an dan Tafsir.